300x300

Tuesday, November 15, 2011

Asuransi vs. Deposito



Setau aku:
1. Kalau deposito keunggulannya: bunga nya pasti lebih gede daripada
asuransi
2. Kalau asuransi, produk ini keunggulannya: akan cover risk. Jadi,
kalau kita sebagai ortu tahu-tau meninggal (ini amit-amit ya), yang
namanya anak tuh tetep bisa lanjutin sekolah sampai lulus S1.

Semua keputusan kembali ke kita sebagai ortu. Apa mau invest di
asuransi walaupun bunga nya tidak menarik. Kita juga tidak tahu kan,
mungkin kita menghadapi suatu musibah di masa depan dan saat itu juga
kebetulan anak kita belum mandiri (belum mampu menghasilkan uang
sendiri untuk menghidupi dirinya dia).
Tapi kalau dipikir mendingan deposito saja, toh kalau ada musibah
masih ada kakek atau nenek atau sanak saudara yang bantu untuk
membiayai sekolah anak, menurut aku sih oke-oke saja. Misal, ortu
kamu kaya raya dan kekayaannya bisa menghidupi anak cucu sampai tujuh
turunan, kamu tidak usah peduli dengan yang namanya asuransi. Lain
kalau misalnya ortu kita itu latar belakangnya kurang mampu, kakak
adik kita juga kelihatannya tidak bisa menolong secara finansial
semisal ada apa-apa yang terjadi terhadap diri kita berdua (suami
istri), maka sebaiknya kita punya sebagian penghasilan yang ditanam
dalam bentuk asuransi. Kita tidak pernah tahu di masa depan tuh bakal
kayak apa. Dari pengalaman hidup aku ya, aku bener-bener sadar kalau
kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita setahun,
dua tahun atau sepuluh tahun ke depan. Jadi, aku dan suami sih
memutuskan untuk investasi di asuransi. Aku punya beberapa kenalan di
beberapa asuransi: Allianz, Manulife, Axa. Bisa dikenalkan kalau mau.
[Ar] 


Sampai saat ini meski saya sudah punya 2 anak, saya belum ikut
asuransi pendidikan. Untuk persiapan biaya pendidikan mereka saya
deposito atas nama mereka yang bunganya ditransfer ke rekening mereka
juga, sambil setiap bulan saya juga nabung ke tabungan anak². Tapi
sekarang malah kepikirin untuk ikut asuransi pendidikan untuk jaga²
kalau ada apa² sama aku dan suamiku (amit.amit.tok.tok.) siapa yang
akan jamin biaya mereka (khususnya pendidikan), mungkin ada eyang²nya
atau kakak yang bisa bantu tapi kita tidak bisa berharap terus (Ci)

Aku mau kasih info lagi cara nabung antara tabungan biasa dan
deposito, yaitu tabungan pendidikannya bank niaga, jadi tiap bulan
tabungan kita di ambil langsung untuk setoran tabungan pendidikan
ini, besarnya minimal 25.000 / bulan, kita yang nentuin sendiri kapan
jatuh tempo, bunga tabungan pendidikan ini lebih besar dari tabungan
biasa tapi masih lebih kecil dari deposito dan ada asuransinya yaitu
kalau terjadi apa apa sama penabung, bank niaga akan nerusin menabung
sampai jatuh tempo. [Di]


Waktu itu aku sempet ikutan untuk coba jadi agen asuransi. Dari info
mereka sendiri, mereka bilang bahwa tidak mungkin asuransi lebih
tinggi daripada deposito. Pasti lebih rendah. Kalau sampai lebih
tinggi, yang ada mereka bisa dikeroyok rame-rame sama bank-bank,
soalnya tidak ada orang yang mau deposito ke bank, pada lebih milih
asuransi lah karena selain bunga tinggi, juga meng-cover resiko.

Alasan yang kamu bilang itu:

1. Mereka tidak bayar pajak.
Ini jelas tidak mungkin karena semua uang yang dia dapat dari para
pemegang premi di investasikan dlm bentuk portfolio (beraneka ragam
investasi dengan resiko sekecil mungkin). Artinya, uang tersebut
sebagian dimasukkan ke deposito, sebagian masuk ke surat obligasi,
saham dll. Nah, semua itu kan menghasilkan bunga yang tentu saja kena
pajak. Misalnya. Kalau dimasukkan ke deposito ya otomatis kena pajak
penghasilan atas deposito yang nilainya 20 % itu.


2. Setuju. Semisal kalau kita nabung 'cuma' 20 juta kan ikut bunga
yang berlaku umum tapi sangat mungkin kalau si perusahaan asuransi
nabung di atas 1 milyar misalnya, pasti dikasih bunga khusus sama
bank yang bersangkutan. Tapi mesti diingat juga, mereka kan juga
harus bayar berbagai macam biaya operasional seperti sewa gedung,
bayar gaji, bayar biaya telpon dll. Itu semua dibayar dari bunga
dengan special rate tadi itu juga. Dan biaya-biaya kayak gitu
jumlahnya tidak sedikit makanya seperti yang kita tahu banyak
perusahaan asuransi sampai sekarang juga masih merugi walaupun sudah
beroperasi 6-10 tahun di Indonesia. Sebagai gambaran, untuk biaya
telpon saja, para marketer/agen asuransi bisa nelpon gratis ke
manapun tujuannya dari kantor agen yang bersangkutan! Kebayang tidak
biaya telponnya melambung setinggi langit ketujuh Belum mereka harus
memperhitungkan berapa besar kemungkinan orang klaim sebelum bayar
preminya lunas. Misal, ada org baru bayar premi 2 kali trus lgs
meninggal kan asuransi yang bersangkutan ibaratnya rugi 18 kali sisa
pembayaran yang seharusnya dibayar si almarhum tadi (total premi
biasanya 20 kali). (Ar) 


Kalau di Indonesia perusahaan asuransi itu di asuransikan lagi tidak
ya? kalau disini perusahaan asuransi itu diasuransikan lagi ada
induknya deh gitu jadi insya allah kalau claim apa² selama
prosedurnya jelas bakalan bisa keluar lagi uangnya tanpa banyak
cingcong. Perusahaan asuransi itu sedikit goyah karena peristiwa WTC
tahun lalu, banyak banget yang mesti dibayarkan, tapi tidak sampai
ambruk. (Sh) 


Yang aku tahu di Indonesia yang diasuransiin lagi itu bukan
perusahaan asuransinya, tapi asuransinya itu sendiri. Garis besarnya
kalau tidak salah seperti ini, kalau perusahaan asuransi A menerima
nasabah yang mengasuransikan gedungnya misalnya sebesar 5 milyar,
maka si perusahaan asuransi ini akan mengasuransikan lagi ke
perusahaan re-asuransi. Jadi kalau ada kerugian, misalnya gedung tadi
itu kebakaran, maka perusahaan asuransi A akan bayar sejumlah sekian,
sedangkan perusahaan re-asuransi akan bayar sejumlah sekian
(tergantung perjanjiannya). Di Indonesia perusahaan re-asuransi ini
ada 4 perusahaan. Nah, re-asuransi ini juga tidak nanggung sendirian,
dia asuransiin lagi ke perusahaan lain, biasanya ke luar negeri,
namanya retro. Jadi si retro ini juga ikutan menanggung sebagian dari
jumlah kerugian yang mesti dibayarin. [Si]


Iya maksudnya begitu, intinya kalau kita dari sudut customer akan
tetep save gitu. Karena pengalaman beberapa temenku yang punya
asurasi pendidikan, trus rumah dll itu ada beberapa yang sampai
sekarang malah tidak jelas rimbanya kan sedih. Kita ngumpulin rupiah
demi rupiah untuk masa depan trus amblas gitu saja. Kalau asuransi
untuk masa tua ada tidak? Untuk pensiunan, di luar jamsostek atau
asuransi dari kantor? (Sh)

1 comments:

Berbagi Ilmu Pengetahuan said...

mau buat menu kaya' punya saya, silahkan baca ini Membuat Tab View Sederhana gan :D

dan selamat mencoba

Post a Comment

TERIMAKASIH ATAS KOMENTARNYA.
Kapan-kapan komentar disini lagi ya?????